Jumat, 06 April 2012

PEMANFAATAN LIMBAH KOTORAN SAPI

Yuliana Ema R
XI_is4-2012
PEMANFAATAN LIMBAH KOTORAN SAPI SEBAGAI PENGGANTI BAHAN BAKAR RUMAH TANGGA YANG LEBIH MEMBERIKAN KEUNTUNGAN EKONOMIS

ABSTRAK
Kegiatan pembangunan peterkan perlu memperhatikan daya dukung dan kualitas lingkungan. Usaha peternakan sapi yang belum terlokalisasi akan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Pencemaran ini disebabkan oleh pengelolaan limbah yang belum dilakukan dengan baik, tetapi kalau dikelola dengan baik, limbah tersebut akan memberikan nilai tambah bagi usaha perternakan dan lingkungan disekitarnya. Sistem usaha peternakan dengan penerapan usaha pengelolaan limbah menjadi Biogas merupakan salah satu upaya untuk meminimalisasi limbah ternak dan tidak mencemari lingkugan. Penelitian mengenai pengelolaan limbah sapi ini dilakukan di Desa Pesanggrahan Dusun Toyomerto Kota Batu, Jawa timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa manfaat ekonomis dari pengelolaan limbah sapi melalui penerapan pembuatan Biogas, system pengelolaan limbahnya, manfaat bagi lingkungan. Contoh dengan membandingkan penggunaan Biogas dengan minyak tanah dan bahan bakar lainya.
Kata kunci : Usaha peternakan sapi, limbah, Biogas, Batu

PENDAHULUAN
Meningkatnya kebutuhan hidup dan peningkatan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta semakin berkurangnya sumber daya alam yang tidak terbaharui, maka perlu dicarikan suatu jalan alternatif guna mengganti sumber daya energi tersebut dengan sumber daya energi yang terbarukan. Kebutuhan energi tersebut sebenarnya tidak lain adalah energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan dan mendistribusikan secara merata sarana-sarana pemenuhan kebutuhan pokok manusia
Berbagai macam bentuk energi telah digunakan manusia seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam yang merupakan bahan bakar yang tidak terbaharui. Selain itu, sumberdaya lainnya seperti kayu bakar saat ini masih digunakan, namun penggunaan kayu bakar tersebut mempunyai jumlah yang terbatas dengan semakin berkurangnya hutan sebagai sumber kayu. Dengan meningkatnya jumlah penduduk, 5
terutama yang tinggal di perdesaan, kebutuhan energi rumah tangga masih menjadi persoalan yang harus dicarikan jalan keluarnya
“Melalui teknologi terapan pembuatan Biogas dari kotoran ternak berpeluang menjadi solusi alternatif atas masalah bahan bakar minyak tanah dan peningkatan produksi ternak menuju swa-sembada daging serta mendorong perbaikan lingkungan (Jawa Pos 22 Juli 2005, hal 12).”
Salah satu teknologi terapan yang ramah lingkungan, biaya murah serta gampang diterapkan serta sangat sesuai dengan kondisi pada saat ini adalah pembuatan Biogas dari kotoran ternak atau dapat juga berupa campuran kotoran ternak dengan bahan tanaman yang dapat saja berupa limbah usaha pertanian ataupun perkebunan. Daya bakar dari Biogas sangat baik, tidak berasap sehingga makanan tetap bersih. Biogas adalah gas yang berasal dari mahluk hidup, dalam hal ini dibincangkan dari kotoran hewan dan tanaman.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, para peternak sapi tertarik akan pemanfaatan limbah kotoran sapi sebagai pengganti bahan bakar rumah tangga guna menghadapi harga bahan bakar minyak yang terus naik dan menguragi pencemaran lingkungan dari limbah kotoran sapi,. Pada kesempatan ini, peneliti ingin meneliti tentang pemanfaatan limbah kotoran sapi sebagai bahan bakar rumah tangga yang lebih menghasilkan keuntungan ekonomis bagi Desa Pasanggrahan Dusun Toyomerto Batu berupa efisiensi biaya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperbaiki lingkungan hidup.
Rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana tingkat efisiensi pemakaian Biogas kotoran sapi dengan minyak tanah dan bahan bakar lainya? (2) Apa manfaat lain dari pembuatan Biogas terhadap lingkungan?
Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara empiris tingkat efisiensi penggunaan minyak tanah dan bahan bakar lain dengan penggunaan Biogas yang cocok dikembangkan pada daerah setempat. Serta mendapatkan manfaat ekonomis dari pembuatan Biogas terhadap lingkungan.
Penelitian ini daharapkan bisa bermanfaat sebagai berikut: (1) Hasil penelitian ini diharapkan peternak sapi mulai menyadari bahwa sebenarnya kotoran sapi adalah salah satu limbah yang dapat diolah dan menghasilkan keuntungan. (2) Hasil 6
penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi bagi peternak sapi tentang bagaimana pemanfaatan limbah dengan optimal. (3) Hasil penelitian ini diharapkan sebagai acuan atau informasi bagi peneliti selanjutnya tentang tema ini. (4) Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan pandangan berbagai pihak seberapa penting limbah kotoran sapi sebagai sumber Biogas alternatif pengganti bahan bakar rumah tangga. (5) Hasil penelitian ini diharapkan daerah-daerah lain bisa mengikuti jejak pemanfaatan limbah kotoran sapi.
METODE PENELITIAN
Pengolahan limbah kotoran sapi sebagai Biogas melibatkan peternak setempat tetapi untuk komponen teknologi, dilakukan sepenuhnya oleh peneliti. Biogas digunakan sebagai pengganti bahan bakar rumah tanggga selama 3 tahun, dan hasilnya lebih memberikan keuntungan ekonomis dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Penelitian dilakukan di daerah Batu tepatnya di Desa Pesanggrahan, Dusun Toyomerto, Kodya Batu, Malang Jawa Timur.
Bahan dan alat yang digunakan untuk pemanfaatan limbah kotoran sapi sebagai pengganti bahan bakar rumah tangga dapat berupa : a) Pemakaian minyak tanah, LPG, kayu bakar dan Biogas sebagai perbandingan, b) Penggunaan sisa dari fermentasi limbah kotoran sapi sebagai pupuk.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimen (uji coba). “ metode eksperimen adalah metode untuk memperbandingkan hasilnya pemakaian satu atau lebih kolompok ekperimen (Surabrata, 1998)”. Dan metode terapan dengan study lapangan, dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung pada objek penelitian kemudian menganalisis data dan membuat kesimpulan untuk pemecahan masalah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara yaitu peneliti melakukan tanya jawab secara langsung dengan pihak terkait.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Lingkungan 7
Desa pesanggarahan, Dusun Toyomerto, Kota Madya Batu, Malang Jawa Timur merupakan daerah pegunungan dengan jumlah penduduknya kurang lebih 250 kepala rumah tangga yang mayoritas pencaharianya adalah peternak sapi dan petani. Rata-rata disetiap rumah terdapat 1-4 ekor sapi dalam satu kepala rumah tangga. Daerah ini sangat mendukung untuk pemanfaatan limbah kotoran sapi, karena pengelola peternakan sapi di Batu tak perlu lagi kebingungan membuang kotoran sapinya. Sebab, kotoran sapi bisa diubah menjadi bahan bakar untuk kompor dan pupuk. Selain itu, area yang cukup luas dan banyaknya kotoran sapi merupakan kesempatan penduduk untuk mengolahnya agar tidak terjadi pencemaran lingkungan.
Perumahan penduduk yang halaman rumahnya cukup luas dapat digunakan sebagai tempat instalasi teknologi Biogas. Peneliti bekerjasama dengan warga setempat melakukan uci coba pembuatan Biogas secara sederhana yaitu kotoran sapi yang telah terkumpul, dimasukkan ke septic tank untuk dijadikan Biogas. Biogas itu bisa dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga, termasuk memasak. Karena itu, dari dalam septic tank tersebut ada lubang kecil yang dimasuki paralon. Paralon ini tersambung dengan selang yang dihubungkan kekompor gas di dapur rumah.
Teknologi Biogas sudah diterapkan selama kurang lebih 3 tahun yang lalu. Untuk mencukupi kebutuhan gas keluarga dengan empat orang anggota keluarga, dibutuhkan dua sampai tiga ekor sapi. Setiap hari, kotoran perekor sapi bisa mencapai sekitar 10 kg. Dengan demikian, dari tiga ekor sapi bisa didapat sampai 60 kg kotoran. Selain menghasilkan Biogas, sisa fermentasi kotoran sapi tersebut bisa menghasilkan pupuk .
Ada 2 jenis ukuran unit yang digunakan dalam pembuatan Biogas yaitu unit permanen untuk ukuran enam kepala rumah tangga dan ukuran unit mini untuk satu kepala rumah tangga. Untuk ukuran unit permanen memerlukan kurang lebih 25 ekor kotoran sapi dengan perbandingan air 1:1, sedangkan untuk unit mini memerlukan 2-3 ekor kotoran sapi dengan pemakaian selama 1 minggu.
Dari hasil uji coba, kebutuhan keluarga dengan anggota sejumlah 5 orang terhadap Biogas yang digunakan khusus untuk memasak adalah 1,25 m3/ hari atau 0,25 m3 /hari/ orang. Sementara itu setiap 10 kg kotoran ternak sapi (jumlah yang dihasilkan seekor ternak sapi per hari) berpotensi menghasilkan 0,36 m3 Biogas, 8
sehingga untuk satu keluarga dengan 5 anggota keluarga membutuhkan 4 ekor ternak sapi, dengan perhitungan perolehan kotoran ternak sejumlah 40 kg/ hari dan akan menghasilkan Biogas sejumlah 1,44 m3 /hari.
Meskipun daerah pegunungan, untuk mendapatkan kayu bakar tidak semudah yang dibayangkan, namun untuk mendapatkan kayu bakar tanpa perolehan sendiri dapat dibeli dengan harga Rp 10.000 untuk 2 ikat kayu bakar. Untuk minyak tanah dapat dibeli dengan harga sebesar Rp. 2750/liter, sedangkan pemakai gas LPGpun jarang sekali disebabkan harga yang cukup mahal yaitu mencapai Rp. 70.000/tabung selain itu juga menyesuaikan dengan kantong mereka, sehingga pemakai LPG hanya kalangan tertentu saja.
Keluarga-keluarga yang menggunakan Biogas sudah tidak membutuhkan pembelian bahan bakar karena sudah bisa terpenuhi kebutuhannya dari kotoran ternak yang dipeliharanya. Bagi mereka yang bisanya mencari/memotong kayu bakar di hutan kini waktunya bisa dipergunakan untuk kegiatan yang memberikan nilai tambah ekonomis, dengan pekerjaan sambilan yang lain. Biaya yang dikeluarkanpun hanya untuk pembelian peralatan.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian diatas, kita bisa menarik keimpulan antara lain :
1. Terbatasnya sumber energi yang ada di alam dan semakin mahalnya harga bahan bakar rumah tangga menjadi masalah yang dihadapi oleh masyarakat umum.
2. Pemilihan teknologi Biogas dapat menjadi alternatif yang cukup baik dalam mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga sehari-harinya karena lebih ekonomis.
3. Berdasarkan hasil penelitian dengan perbandingan anggaran pemakaian bahan bakar rumah tangga, penggunaan Biogas merupakan pilihan yang tepat untuk efisiensi biaya.
11

4. Pengolahan limbah kotoran sapi juga berdampak terhadap lingkungan, yaitu pengurangi pencemaran lingkungan, karena kotoran sapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar rumah tangga.
5. Sisa dari fermentasi limbah kotoran sapi dapat juga dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.
6. Melalui teknologi Biogas peternak memasak dengan murah, bersih, ramah lingkungan, mendorong kelestarian alam, meningkatkan produksi ternak, menghemat devisa negara, mendukung perbaikan ekonomi rakyat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar